Resume 1 November 2012
Pada dasarnya
manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah
konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti pendelegasian wewenang dan urusan
pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan kurikulum
sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua
peserta didik. Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di
daerah atau sekolah.
Pada
kurikulum 2004 yang akan diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan
kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi minimal. Daerah diberi
keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan
peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang
tercermin dalam silabus sangat erat dengan program-program pembangunan daerah.
Sebagai contoh,
suatu daerah yang menetapkan untuk mengembangkan ekonomi daerahnya melalui
bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya dengan materi-materi
biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen
berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan
memberikan kesempatan kepada tenaga sekolah, orangtua, siswa, dan anggota
masyarakat dalam pembuatan keputusan.
Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria.
Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan.
Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria.
Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan.
Penerapan
demokratisasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah
setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan
dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal.
Proses belajar
mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran
lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media
dan sumber belajar, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa.
A. Konsep Dasar MBS
A. Konsep Dasar MBS
Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang
dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok
kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam
proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah
atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
B. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
B. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Apabila
manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah, maka MBS akan
menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan
masyarakat di mana sekolah itu berada. Ciri-ciri MBS, bisa dilihat dari sudut
sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, pengelolaan
SDM, proses belajar-mengajar dan sumber daya sebagaimana digambarkan dalam
tabel berikut:
Ciri-ciri
sekolah yang melaksanakan MBS pada dasarnya kepemimpinan transformasional
mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya, yaitu:
1.
Memiliki kharisma
yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik
sehingga memberikan rasa aman, percaya diri, dan saling percaya dalam bekerja
2.
Memiliki kepekaan
individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan
kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya
3.
Memiliki kemampuan
dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. KS mampu mempengaruhi staf
untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru.
Dengan demikian,
MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program
desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai dengan adanya otonomi luas di
tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka
kebijakan pendidikan nasional. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan
proses belajar mengajar. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah
sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility), kreatif dalam
bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut
pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public
accountability by stake holders).
Secara ringkas
perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS)
dapat digambarkan sebagai berikut:
Diharapkan dengan menerapkan manajemen pola MBS, sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal berikut:
1.
Menyadari kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman bagi sekolah tersebut
2.
Mengetahui
sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan
3.
Mengoptimalkan
sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya
4.
Bertanggungjawab
terhadap orangtua, masyarakat, lembaga terkait, dan pemerintah dalam penyelengaraan
sekolah
5.
Persaingan sehat
dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan
layanan dan mutu pendidikan. >
Hasil rumusan
yang dihasilkan peserta kemungkinan sangat banyak dan bervariasi. Pada akhir
diskusi, fasilitator bersama-sama peserta mencoba mengklasifikasi dan
menggabungkan rumusan yang sejenis sehingga diperoleh ciri-ciri Manajemen
Berbasis Sekolah. Misalnya:
1.
Upaya meningkatkan
peran serta Komite Sekolah, masyarakat, DUDI (dunia usaha dan dunia industri)
untuk mendukung kinerja sekolah
2.
Program sekolah
disusun dan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar
mengajar (kurikulum), bukan kepentingan administratif saja.
3.
Menerapkan prinsip
efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran,
personil dan fasilitas)
4.
Mampu mengambil
keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi lingkungan
sekolah walau berbeda dari pola umum atau kebiasaan.
5.
Menjamin
terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat.
6.
Meningkatkan profesionalisme
personil sekolah.
7.
Meningkatnya
kemandirian sekolah di segala bidang.
8.
Adanya keterlibatan
semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah (misal: KS, guru, Komite
Sekolah, tokoh masyarakat,dll).
9.
Adanya keterbukaan
dalam pengelolaan anggaran pendidikan sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar